Postingan

Dibalik Kata-Kata Menyakitkan

Gambar
Oke, judul post ini mungkin terlihat agak... membingungkan. Tapi, serius, gue mau berbagi sebuah cerita di hari rabu (18 Maret 2015) yang lalu, yang baru aja gue alami. Sebelumnya, gue pengin bilang. Dalam hidup ini, entah udah keberapa tahun lo hidup di dunia yang fana ini, pasti lah, lo pernah kan, ngerasa jatuh, down , lemes, kesal, karena seseorang yang kata-katanya itu menyakitkan. Kata-katanya itu diucapkan seenak udel dan bikin orang yang mendengarnya sakit, jatuh, dan menderita sampai-sampai si korban nggak mood ngapa-ngapain, malas ke luar kamar, lupa makan, sampai yang paling parah berakhir dengan bunuh diri kecoa terbang. *Eh, apa dah yang terakhir. Hahahaha... Jadi, hari rabu itu, selesai TO Bahasa Inggris yang diawas sama wali kelas gue, wali kelas gue yang mengajar mata pelajaran Matematika itu mengeluhkan nilai beberapa anak yang benar-benar jongkok, dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Tak terkecuali gue yang sumpah emang beneran gue gak pernah akur ama ...

Tentang Impian ke 47!

Gambar
Kamis, 19 Februari 2015. Kamis itu, hujan rintik udah turun dari pagi. Kalau menurut orang-orang, justru wajar hari itu hujan, karena berhubungan dengan hari imlek. Gue udah pasrah ajalah, hari ini acara yang disusun bakal dilanjut apa nggak, soalnya hujan. Kalau hujan begini, Bapake udah malas biasanya untuk ke luar. Tapi, nyatanya, gue udah disuruh bangun pagi-pagi. Sholat, mandi, siap-siap. Ternyata, rencana kami buat ke Institut Pertanian Bogor (IPB) tetap akan dilanjutkan! Yeay! Gue senang banget nih, karena emang gue belum pernah berkunjung ke kampus impian itu. Gue ke sana juga hanya untuk liat jalan, kata Bapake, ini penting banget, biar nanti pas hari Sabtu (yang mana IPB bakal adain Open House IPB 2015), nggak pake nyasar kesananya. Rencananya, berangkat dari rumah jam setengah enam. Ya, rencana hanya tinggal rencana yaa, yang bisa aja berubah. Kami berempat (gue, mama, bapake, sama kakak perempuan gue) berangkat ke IPB jam enam lewat lima belas menit. Jalanan la...

Cerita di Hari Jumat dan Kebahagiaan Lainnya...

Hari jumat adalah hari yang bisa mencetak tawa lebar di wajah gue. Beda banget sama hari senin, biasanya kalau hari senin, wajah gue bakalan datar dan gak bergairah *eah, lebay gitu, kan*. Tapi, kalau udah hari jumat, rasanya senyum atau tertawa itu nggak berat! Ini merupakan senyum semangat untuk menyambut weekend! Oke, di postingan kali ini, gue mau menceritakan apa aja sih, yang terjadi di hari jumat yang kemarin gue jalanin. Dan, gue juga mau ngebahas pertanyaan yang mampir di inbox facebook gue yang isinya: "Kakak kan udah nulis buku. Terus, gimana perasaan Kakak? Apa kata-kata orang di sekitar Kakak? Apa Kakak juga jadi terkenal di sekolah?" Wah, agak nggak selaw gitu ya, font nya. Hehehe.. kurang lebih isinya begitu. Sebenarnya, itu pertanyaan udah lampau. Tapi, kayaknya seru ngebahas hal ini. Muehehe... :3 *** Hari jumat gue dimulai dengan gue bangun nggak kesiangan! Yeay! Gue melakukan ritual pagi seperti biasa, dan langsung berangkat ke sekola...

DIBALIK PENULISAN PBC: LET'S MAKE A WISH!

Gambar
"Ini buku yang ke berapa? Hah, ketiga? Yang kesatu sama kedua aja belum baca!" "Terbit di seri PBC lagi, Dyah? Ih, kok bisa, sih?" "Kok bisa dalam satu tahun terbitnya tiga gitu?" "Kak, keren, deh. Selamat, ya..." "Kak, kavernya lucu..." "Ini buku kamu yang baru? Sini, Ibu mau beli." *** Setelah lama nggak ngepost lagi, akhirnya ketemu juga kesempatan indah ini <3 Yeay! Sama seperti yang sudah-sudah, setiap buku gue yang terbit, akan gue tulis kisah dibalik penulisannya. Tujuannya sih, hanya ingin berbagi pengalaman aja (apalagi sering banget gue ketemu pengalaman buruk pas lagi nulis. Bukan bermaksud ingin bilang, 'liat nih, gue bisa sukses, masa lo nggak?'. Tapi, lebih ke, 'liat nih, gue pernah melakukan kesalahan di sini, jangan sampai lo ngelakuin kesalahan itu juga.' Simple. Hehehehe... Btw, kalian udah baca kisah dibalik penulisan PBC: I Miss You, Dad! & PBC: Surpri...

Butuh Semangat Baru...

Tahu, rasanya ketika apapun yang digagas oleh otak tak pernah di tanggapi oleh mereka ? Mungkin terlalu sombong kalau aku meminta mereka untuk menanggapinya, tapi setidaknya, apakah mereka mendengarkan? Pernah tahu, bagaimana rasanya ketika dirimu seolah-olah hanya kertas putih tanpa noda tinta yang sudah lusuh dan lecek yang terbang terombang-ambing mengikuti kemana sang angin bertiup di tengah-tengah langkah kaki manusia yang ramai dan asik bercengkrama dengan teman-temannya, pernah tahu rasanya seperti apa? Sesakit apa? Ketika tak ada yang menanggapi dirimu sama sekali, tak ada yang mau berteman. Yang menganggap dirimu memang hanya kertas putih yang lusuh itu, yang sudah lecek itu. Ketika mereka merasa tanpamu, semua akan tetap berjalan baik-baik saja. Aku coba menghadapi semua dengan senyum getir, walau rasa takut masih menggelayuti dada. Rasa takut masih menghantui di setiap langkah kaki bergerak memasuki gedung bertingkat dua itu, sekolah. Rasa takut tidak memiliki teman, ...

Hari-Hari yang Lalu ...

Gambar
Sumber: http://dreamyhollic.blogspot.com/2013/11/the-rhythm-of-rain.html Acara itu ditutup dengan tepuk tangan meriah dari semua orang yang hadir. Ketika suara tepuk tangan sudah menghilang dan berganti dengan riuh-rendah suara para hadirin, aku masih bisa mendengar suara tepuk tangan dari orang di belakangku. Karena penasaran siapa yang bertepuk tangan, kutolehkan kepala dan mendapati sosok itu. "Penampilan kamu keren banget," ucapnya lantang, tidak seperti dia yang kutahu. Biasanya, dia tidak pernah selantang dan selancar ini kalau berbicara. Senyumnya teramat beda dibawah langit yang mulai menggelap. Aku mengernyit, tidak paham dengan maksud perkataan dia. Siapa yang tampil? Aku? Daritadi aku hanya menjadi penonton dan tidak menampilkan apapun. "Kan, aku nggak tampilin apa-apa," jawabku sambil tersenyum. Yang kutatap malah membalas tatapanku dengan hangat, dengan senyum yang tak pernah ia tunjukkan di hari-hari yang lalu. Dengan penampila...

Awal Mulanya Menulis... (2) Dyah Apriliani

Gambar
Malam! Digelap dan dinginnya malam ini, gue mau melanjutkan sharing tentang pengalaman menulis gue, nih. Yuk, yang udah baca post Awal Mulanya Menulis (1) Dyah Apriliani kita langsung lanjut di postingan kedua. *** Gue mulai mengenal serial Pink Berry Club atau disingkat PBC. Target gue waktu itu adalah, naskah novel pertama gue akan gue kirim ke sana. Tapi, saat itu, gue baru kirim naskah pertama gue ke PBC itu tahun 2012. Tepatnya, Maret 2012. Nah, gue inget banget nih pas di bagian ini. Jadi, gue nulis naskah itu dalam waktu satu bulan. Judulnya, 'My Name is Milo'. Berkisah tentang seorang anak perempuan yang berteman dengan hewan peliharaannya. Oke, awalnya gue emang masih polos banget. Ngerasa tuh naskah oke, jadilah gue kirim ke PBC. Nggak lama, tanggal 13 April 2012 (Sehari setelah gue ulang tahun) gue nerima amplop dari Mizan. Waktu itu, gue amat bertanya-tanya kira-kira isinya apa. Setelah gue buka, tiba-tiba hati gue langsung ngerasa....berkecamuk. Iya, se...